Saturday, August 06, 2005

Resensi Film: Breakfast at Tiffany's

Image hosted by Photobucket.com

Paul Varjak baru saja pindah ke sebuah apartemen, dengan tetangga yang sangat eksentrik—Holly Golightly. Holly adalah seorang wanita yang gemar berpesta dan mencari teman kaya. Meski hidup seadanya, dia terlihat sangat mewah baik dalam berdandan ataupun berbelanja. Holly juga sering datang hanya untuk melihat barang-barang di Tiffany’s. Di lain sisi, gaya bahasa Holly tampak begitu santai dan semrawut. Seiring dengan berlalunya waktu, Holly dan Paul menjadi sahabat akrab. Holly secara tidak sengaja mengetahui kalau Paul terlibat affair dengan seorang wanita kaya yang telah bersuami. Bahkan kemudian diketahui bahwa nafkah hidup Paul ditanggung oleh wanita kaya itu.

Holly percaya, kalau di dalam hidupnya, uanglah yang paling penting. Dan memandang cinta di urutan ke sekian. Cara pandangnya tentang cinta memang sarkastik, meski demikian Holly sangat menyayangi adik lelakinya. Paul sendiri menganggap hidup Holly sangatlah menarik dan penuh kejutan. Holly yang suka window shopping di Tiffany’s—toko perhiasan kelas atas—pun tak lepas membawa Paul ke sana walau hanya sekedar melihat-lihat. Dari kedekatan mereka Paul mulai merasakan ada sesuatu yang lain yang ia rasakan terhadap Holly, dan lambat laun dia mulai memperbaiki pola hidupnya dan mencoba untuk mandiri juga melepaskan diri dari ketergantungannya pada wanita bersuami yang tengah dipacarinya.

Namun ketika Paul mengemukakan perasaannya, Holly terang-terangan menolaknya karena menganggap Paul tidak bisa membeli kebahagiaannya, meskipun di satu sisi Holly merasakan hal yang sama seperti halnya Paul. Audrey Hepburn bener2 main brillian disini. Dia bisa jadi kelihatan ‘liar’ sekaligus anggun. Kurang lebih komentar ini ada karena aku suka banget sama Audrey Hepburn. Diantara film-film Audrey Hepburn, ini adalah yang terfavorit. Bukan cuma karena bagus, tapi juga karena buat bisa liat film ini cukup butuh lama buat nyari, hehe.

Friday, August 05, 2005

Resensi Buku: Eoin Colfer's Artemis Fowl



Artemis Fowl menceritakan kisah seorang anak genius bin ambisius yang bernama sama dengan judulnya: Artemis Fowl. Artemis berambisi untuk mengembalikan kekayaan keluarganya dengan menghalalkan segala cara, termasuk dengan mengambil emas milik para leprechaun. Walaupun banyak orang yang tidak percaya tentang keberadaan leprechaun tetapi beberapa jejak kecil yang ditinggalkan oleh kaum itu tercium oleh kecerdasan Artemis. Dimulailah perburuan emas Artemis dengan terlebih dulu mencari buku kuno milik kaum leprechaun yang memaparkan semua peraturan dan detail tentang makhluk bertelinga runcing itu. Para leprechaun diceritakan tinggal dekat inti bumi karena terdesak dengan populasi mereka yang semakin banyak. Hal ini dilakukan karena kaum peri tersebut tidak ingin keberadaan mereka bersentuhan dengan manusia. Dua tokoh penting di cerita ini Artemis dan Holly Short—anggota kesatuan polisi kaum peri—berdiri berhadap-hadapan sebagai pihak yang bertentangan. Dibantu oleh pelayan setianya Butler dan adik perempuan Butler—Juliet—Artemis berhasil menjadikan Holly Short sebagai tawanan setelah secara kebetulan Holly naik ke permukaan untuk mengantisipasi serangan troll yang membabi buta di kediaman manusia. Holly yang waktu itu kehilangan kemampuan sihir karena jarang melakukan ritual—kebiasaan untuk memperkuat daya sihir kaum peri—tertangkap oleh Artemis dan Butler ketika hendak melakukan ritual di daerah Irlandia. Dengan penyanderaan Holly tersebut rencana Artemis pun dimulai. Dia berniat menukar Holly dengan seton emas yang kemudian dinegosiasikan kepada komandan polisi kaum peri—Root.

Secara keseluruhan cerita Artemis Fowl gampang banget dilihat garis besarnya. Artemis. Gabungan elemen cold-blooded teenage, eccentricity, dan kegeniusan yang luar biasa memang pas untuk genre novel fantasi macem ini. Tapi disbanding versi terjemahannya, mungkin aku lebih milih baca versi originalnya yang berbahasa Inggris. Selain lebih orisinil dengan istilah-istilah ‘nggak umum’ yang biasa ada di novel jenis begini, juga lebih terasa ‘soul’ dari cerita itu sendiri. Tapi ada juga istilah-istilah yang banyak aku temuin disini mirip sama yang ada di buku Harry Potter. Spud, Newt. Well, bukannya ngebandingin tapi unsur magical intervention yang ada bikin aku mau ngga mau harus ngebandingin. Dan ternyata tema juga karakter tokoh utamanya memang beda. Urusan plot itu lain lagi. Memang rada-rada mirip. A young boy’s adventure in achieving something’s extraordinary. Sama kan? Nah, bedanya, Harry Potter ngga minta untuk ada di posisinya sekarang ini (facing the most malicious creature in the universe) sebaliknya Artemis Fowl memposisikan dirinya untuk ditentang kaum leprechaun (yang notabene punya teknologi bermilyar lebih canggih dari manusia). Tinggal masalah selera aja buat nentuin buat suka kedua buku itu, atau berpihak di salah satu kubu—yang jelas2 ngga jauh beda di masalah genre.