Kebayang ngga sih, London yang sekarang kita liat itu, megah, dengan garis aristrokasi yang bikin kagum, yang tanahnya punya harga paling mahal di dunia.. Yang punya biaya hidup paling tinggi sedunia.. ternyata pernah ada di masa-masa kelabu.. literally.. Pernah lihat film Sweeney Todd? Atau From Hell? Atau Sleepy Hollow? Yang notabene ketiga film itu dibintangi Johnny Depp yang jelita.. Aku kumpulin beberapa info di internet.. dan kelabu yang dimaksud adalah smog atau asbut..Bila orang Amerika berpikir asbut (kabut yang bercampur dengan asap) pertama ditemukan di Los Angeles, mungkin mereka harus berpikir dua kali. Berdasarkan fakta, orang-orang London menemukan kata "smog" pada tahun 1905 untuk menggambarkan kombinasi yang berbahaya dari kabut alami dengan asap hasil pabrik batubara. Kemudian sebuah fenomena yang menjadi bagian dari sejarah London, dan juga menjadi lebih familiar bagi orang-orang London seperti halnya Big Ben atau Westminster Abbey. Asbut itu bahkan masuk dalam literatur Shakespeare seperti yang ada pada dialog salah satu drama kenamaannya—Macbeth. "Fair is foul, and foul is fair: Hover through the fog and filthy air."
Asbut di London diperkirakan telah ada 4 abad sebelum masa Shakespeare. Sampai pada abad ke 12, kebanyakan Londoner—sebutan bagi orang London—menggunakan kayu sebagai bahan bakar mereka. Tetapi seiring dengan pertumbuhan kota dan semakin menciutnya hutan-hutan, kayu menjadi barang yang langka dan mahal. Persediaan batubara laut dari pantai timur laut menjadi bahan bakar alternatif yang murah. Segera setelah itu para Londoner sibuk mengepulkan asap-asap hitam dari rumah dan pabrik mereka dengan batubara. Batubara laut memang dikenal tidak efektif walaupun jumlahnya banyak. Banyak batubara yang dibakar itu sebagian besarnya tidak menjadi energi melainkan asap. Asap batubara pun menghiasi ribuan cerobong asap di London dikombinasikan dengan kabut yang bersih alami dan kemudian timbullah asbut. Apabila cuaca dengan kondisi kabut seperti itu, asbut akan tetap ada selama berhari-hari.
Setelah itu belum ada seorang pun yang memiliki alat yang dapat mengkorelasikan asbut dengan efek yang ditimbulkannya untuk kesehatan, tapi ada beberapa keluhan mengenai udara yang berasap dan mengganggu kira-kira pada tahun 1272 ketika King Edward I, dan atas desakan para bangsawan dan pendeta, melarang penggunaan batubara. Siapa saja yang ditemui membakar atau menjual barang itu diancam hukuman siksa bahkan hukuman mati. Pada masa itu seorang pelanggar aturan dari King Edward I ini dikenai hukuman mati. Hal ini tidak juga membuat yang lain jera. Dikarenakan kebutuhan mendesak, para warga terus saja melanggar hukum dengan terus menggunakan batubara karena hukum hanya memperbolehkan penggunaan kayu bakar yang mana hanya bisa dilakukan oleh beberapa orang saja—dalam hal ini kebanyakan adalah kaum bangsawan.
Mengikuti pendahulunya, Richard III dan Henry V juga mencoba mengekang penggunaan batubara. Pada 1661, John Evelyn, menulis risalah anti-batubaranya "Fumifungium" atau The Inconvenience of the Air and Smoke of London Dissipated, yang mana dalam tulisannya itu dia berpihak pada Raja dan Parlemen untuk melakukan tindakan sehubungan dengan berlanjutnya penggunaan batubara di London. Dia menulis: "Dan apalah dari semua ini selain sekumpulan awan batubara yang kejam dan suram? Yang begitu nyata dan semena-mena bercampur dengan udara yang sama sekali baik dan sehat, yang keberadaannya yang tidak asli, tebal dan ditemani oleh uap yang penuh jamur dan kotor ini dihirup oleh para penduduk…"
Meskipun demikian banyak hukum dan risalah yang gagal menghentikan pemakaian batubara. Terlalu banyak orang yang memanfaatkan barang itu dan di samping itu memang tidak ada alternatif lain. Batubara antrasit memang lebih bersih tetapi terlalu mahal. Pada tahun 1800-an 1 juta lebih penduduk London menggunakan soft-coal (batubara yang lebih halus), dan "kabut" musim dingin menjadi lebih dari sekedar gangguan. Di tahun 1873 asap hitam memenuhi kabut, menjadi lebih tebal dan menetap lebih lama dari kabut biasa, menaungi kota selama berhari-hari. Seperti yang kita ketahui dari penemuan epidemiologis berikutnya.
Untung aja masa2 kelam London udah lewat, kalo engga, ngga mungkin kan The Changcuters bikin lagu Hijrah ke London... :D


0 comments:
Post a Comment